Tradisi Nyadran Dam Bagong Kembali Digelar, Wabup Syah Pimpin Prosesesi Awal

TRENGGALEK, mediabrantas.id – Wakil Bupati Trenggalek, Syah Mohamad Natanegara menerima Kirab Kerbau Nyadran Dam Bagong. Kirab ini dilaksanakan di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Kamis (7/5). Kirab Kerbau sendiri menjadi awal  upacara adat yang dilakukan secara turun temurun itu.

Kegiatan ini sendiri merupakan betuk perwujudtan rasa syukur bagi warga masyarakat sekitar, khususnya juga para petani yang sawahnya dialiri sungai Bagongan.

Dalam prosesi kirab ini, selain menerima kesinggahan Kerbau, Wakil Bupati Trenggalek, Syah Mohamad Natanegara juga menyerahkan kelengkapan penyembelihan kepada petugas yang ditunjuk. Kemudian setelahnya kerbau ini dibawa ke lokasi Nyadran untuk nantinya  dilakukan penjamasan (penyucian) terlebih dahulu.

Wabup Syah usai melepas keberangkatan Kerbau menuju Komplek Makam Setono Bagong mengatakan, “alhamdulillah upacara adat ini bisa dilaksankan setiap tahun. Harapannya ini bisa melestarikan budaya yang ada di Kabupaten Trenggalek dan juga harapannya bisa mengangkat roda perekonomian di wilayah sekitar,” kata wakil kepala daerah muda itu.

Baca Juga:  Kota Madiun Bersholawat Peringati HUT Ke 103 Tahun

Sementara itu Lurah Ngantru, Bambang Wusprapto menerangkan terkait dengan prosesi Upacara Adat Dam Bagong tahun ini dan juga tahun-tahun sebelumnya merupakan rangkaian adat yang turun menurun.

“Kegiatan ini diawali Kirab Mahesa (Kerbau) yang dilaksanakan di Pendopo Agung Kabupaten. Lalu serah terima ubo rampe pragat Maheso (kelengkapan penyembelihan Kerbau). Dilanjutkan kirab menuju Pendopo Makam Menaksopal,” jelasnya.

Masih menurut Lurah Ngantru itu, “selanjutnya akan dilakukan jamasan nanti malam, kurang lebih habis Shalat Isya’. Kemudian ritual dan dilakukan penyembelihan,” lanjutnya.

Menurut Bambang, pada malam itu juga ada pertunjukan wayang kulit dilokasi makam. Sementara untuk besok paginya akan dilakukan prosesi Nyadran lainnya termasuk pelemparan kepala, kulit dan kaki Kerbau yang disembelih di lokasi Dam Bagong. Untuk dagingnya sendiri kata Bambang akan dibagikan kepada warga masyarakat. Ini, menurutnya “sebagai bentuk syukur utamanya dilingkungan Dam Bagong. Semoga tradisi ini selalu dilestarikan kedepan dan tanpa menghilangkan satu rangkaian yang harus dilaksankan,” tandasnya. (Hari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *