Bersih Desa Dusun Kedungbrubus, Menggelar Wayang Kulit Siang Malam

MADIUN, optimistv.co.id– Warga Desa Bulu, Dusun Kedungbrubus, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur menggelar wayang kulit siang dan malam, Jumat 15 Juli 2022.

Sebelum pangelaran wayang kulit dalang Ki Bimo dari Desa Ngale digelar, sebelumnya selamatan dan tahlilan dirumah Kepala Dusun Kedungbrubus, Pak Salimo, tradisi pangruwatan (bersih desa) inilah yang dinantikan warga. Mereka berharap dengan digelarnya bersih desa nantinya agar desa dan warganya serta pemerintah desa setempat dijauhkan dari sengkala (bencana, musibah, atau pagebluk) tradisi yadran (ruwatan) bersih desa sudah dinyakini turun-temurun.

https://mediabrantas.id/wp-content/uploads/2025/12/Dinas-Pertanian-dan-Pangan-Kabupaten-Trenggalek.jpg
Kepala Dusun Kedungbrubus, Salimo saat dilokasi wayangan

Kepala Desa Bulu, Ismilah Suciati, S.Sos mengatakan bersih desa tiap Jumat pahing, memang itu sudah kultur, adat istiadat. Bersih desa Sudah ada tahun berapa, ngak tahu dari nenek moyang. Bersih desa harus diadakan biarpun covic-19 kemarin wayang kulit tetap ada.

Baca Juga:  Pemkot Kediri Gelar Sidak Takjil, untuk Pantau Keamanan Pangan Selama Ramadhan

“Biarpun sederhana waktu covid-19 kita adakan wayang kulit kusus di dusun Kedungbrubus, tidak ada kendala, kalau ada masalah kita selesaikan, masyarakat sangat antusias,” kata Ismilah Suciati, Jumat 15 Juli 2022.

Selain menggelar wayang kulit, juga diadakan bancaan nyembelih kambing kendit yang tiga warna (kambing hitam namun bagian punggungnya putih, mirip selendang putih yang melingkar) kepalanya ditanam disendang dekat pohon ringin di Dusun Kedungbrubus yang lama.

“Terus dagingnya dibagikan masyarakat satu sunduk, satu sunduk diratakan semua kepala kelurga dapat, jadi satu kambing rata,” ujar Kepala Desa Bulu.

Ia menambahkan bancaanya (selamatan) tidak ayam tetapi kambing kendit, carinya susah, kalau ngak kambing kendit tidak mau.

“Pernah kejadian harinya kliru, dan dilaksanakan Sabtunya, orang satu Dusun Kedungbrubus kena gatal semua, pernah dilaksanakan Jumat pagi saja, malamnya tidak, hujan angin kuburan rusak total, kijing-kijing porak poranda, waktu kejadian tahun 1995, waktu itu kepala Desanya suami saya,” tuturnya.

Baca Juga:  75 Persen DBHCHT Kota Probolinggo dialokasikan untuk Kesehatan

Sementara itu, Kepala Dusun Kedungbrubus, Salimo menambahkan yadran (bersih desa) menyembelih kambing kendit bulan suro harinya jumat legi, kalau bersih desa hari Jumat pahing
bulannya besar, sudah adat tiap tahun diadakan Kalau ngak salah mulai tahun 1908.

“Hajatan tasyukuran biar warga Kedungbrubus sehat,aman, rejekinya barokah, nanti wayang kulit berhenti sekitar jam 11 siang, malamnya jam 20 : 00 sampai jam 24 : 00 , kita minta kepada dalang Ki Bimo diberi ular-ular (kata-kata) yang baik,” lanjutnya.

Salimo berharap, masyarakat ayem tentrem hidupnya sejahtera, rejekinya barokah dunia akirat.

“Antusias sekali, karena bersih desa adat istiadat sudah turun temurun dari nenek moyang, pernah tidak wayangan dulu tahun 1995 masih dilokasi Dusun Kedungbrubus lama (sekarang waduk Kedungbrubus) waktu itu jalannya jelek dan sulit sekali sampai jam 3 sore tidak wayangan, akirnya ada angin kencang dan pohon-pohon tumbang, akirnya musyawarah dan nanggap wayang kulit, Alhamdulilah lancar,” terangnya.

Baca Juga:  Upacara Hari Jadi Kabupaten Mojokerto ke - 730 Bupati Ikfina Berikan Penghargaan Kades Yang Lunas Pajak PBB

Masih menurut, Salimo kita Berdo’a tujuanya untuk melestarikan, tiap Jumat pahing pasti ada wayang kulit.

“Sebelumnya saya kumpulkan nanti dalangnya siapa, dari Desa dananya berapa, bentuk panitia kecil-kecilan, misalkan nanti beli kambing kendit harga Rp 3 jura sampai Rp 3,5 juta sudah musyawarah, dan dagingnya dibagikan 155 kepala keluarga seluruh warga Dusun Kedungbrubus,” ujarnya.

Reporter : Sugeng Rudianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *