KEDIRI | optimistv.co.id – Anggota Faksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Kediri, Khusnul Arif, S.Sos, terus mendukung para pengiat kesenian untuk melestarikan budaya adiluhung peninggalan nenek moyang.
Seperti yang dilakukan Sabtu, 19 Maret 2022 malam, anggota dewan yang akrab disapa Mas Pipin ini memberikan bantuan berupa Pokir kepada seniman Wayang Kulit di Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Dalam kegiatan yang dihadiri Forkopimka Papar, dan Kepala Desa Tanon, Kusnadi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga masyarakat sekitar tersebut juga dilaksanakan ikrar dari perwakilan semua agama yang di desa setempat.
Kapolsek Papar, AKP Chardi Kukuh Wicaksono, SH dalam sambutannya mengajak warga masyarakat untuk selalu mematuhi protokol kesehatan supaya kasus Covid-19 dan Omicron tidak melonjak kembali.
Kapolsek juga menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan meningkatkan keamanan dengan menjaga lingkungan masing-masing supaya tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sementara itu, Kepala Desa Tanon, Kusnadi, dikonfirmasi mengucapkan terima kasih kepada Anggota Faksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Kediri, Khusnul Arif, S.Sos, yang telah mempercayakan desanya untuk ditempati pagelaran Wayang Kulit dan penyampaian Pokir tahun 2022.
“Menurut saya, Wayang Kulit itu harus dilestarikan, karena gambaran hidup manusia ada disitu semua. Cerita Wayang Kulit itu antara kebaikan dan keburukan. Kalau kita kebaikan kita berpijak pada Pandawa, dan dari segi keburukan itu gambarannya Kurawa,” katanya.
Ditambahkan Kades Kusnadi, maka dari Wayang Kulit itu harus dilestarikan, karena merupakan kebudayaan yang banyak hikmahnya dari turun temurun, dan membimbing manusia untuk menjalani segi kebenaran.
Sedangkan Anggota Faksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Kediri, Khusnul Arif, S.Sos, dikonfirmasi mengatakan, pagelaran Wayang Kulit ini merupakan salah satu program Pokir sebagai upaya nguri uri budaya Jawa.
“Kita sudah menjalankan lima pentas Jaranan, dan malam ini pagelaran Wayang Kulit, dan berikutnya sudah kami anggarkan untuk pameran Keris, dan pementasan Ludruk, Orkestra Musik, Dangdut, dan kegiatan kesenian lainnya,” katanya.
Ditanya tentang apakah yang dimaksud dengan Pokir, Mas Pipin menjelaskan, bahwa Pokir itu adalah Pokok-Pokok Pikiran atau yang dahulu dikenal dengan Jasmas. Intinya segala bentuk aspirasi dari masyarakat, konstituen, maupun pemerintah desa, kemudian diwujudkan dan direalisasikan dengan anggaran yang melekat pada DPRD.
Menjawab isu mengenai akan ada penghapusan Wayang Kulit, Mas Pipin menegaskan tidak akan pernah dihapus, bahkan harus terus dilestarikan, karena selain merupakan seni tradisi, tetapi juga sejarah penting di tanah air.
“Siapa yang mau menghapus ? tidak ada. Wayang ini selain bicara tradisi, kita juga tidak bisa meninggalkan sejarah. Dahulu Wali Songo melakukan syiar agama, pendekatannya juga dengan seni, salah satunya adalah Wayang,” tegasnya.
Mas Pipin juga menjelaskan, esensi yang harus dimunculkan adalah dengan Wayang ini manusia bisa mendapatkan inside, aspirasi, masukan-masukan positif, tentang bagaimana harus berlaku dan lain sebagainya, semuanya ada dalam Wayang.
Sementara itu, dalam pagelaran Wayang Kulit secara virtual dari Balai Desa Tanon, Kecamatan Papar yang diawali penyerahan Gunungan dari Mas Pipin kepada Dalang Ki Gede Ariawan dari Desa Ringinsari, Kecamatan Kandat ini mengambil cerita Pandawa Syukur.
Kisah Pandawa Syukur menceritakan tentang keberhasilan para Pandawa membuka hutan Wanamarta dan berhasil mendirikan Negara Amarta atau Indraprastha. Sebagai tanda syukur kepada Tuhan YME, mereka menyelenggarakan sesaji Raja Suya, yaitu suatu selamatan yang harus dihadiri 100 raja.
Sementara itu, di tempat lain yakni Kerajaan Giribaja, dengan Prabu Jarasanda juga berencana mengadakan Sesaji Kalalodra. Sesaji ini kebalikan dari Sesaji Raja Suya, yaitu mensyaratkan 100 raja untuk dikorbankan sebagai tumbal.
Negara Giribaja telah berhasil mengumpulkan 97 raja yang sudah dipenjarakan, sehingga kurang tiga raja. Untuk melengkapinya, Supala dan balatentara Kerajaan Giribaja diutus oleh Jasaranda untuk menaklukkan Puntadewa raja Amarta, Kresna Raja Dwarawati, dan Baladewa Raja Madura. Mereka ialah tiga raja yang belum berhasil ditaklukkan.
Para Pandawa memutuskan untuk membebaskan raja-raja yang menjadi tawanan Prabu Jarasanda. Mereka menyamar sebagai Brahmana dan berhasil menyusup ke Negara Giribraja, dan terjadilah pertempuran dengan Prabu Jasaranda.
Akan tetapi, para pandawa kesulitan mengalahkannya, sehingga mereka mundur dan mendatangi Kresna. Kresna memberi tahu bahwa Prabu Jarasanda akan dapat ditaklukkan apabila disigar (dibelah) kembali. Setelah mendapatkan jawaban dari Kresna, mereka melanjutkan pertempuran dan berhasil menaklukkan Prabu Jarasanda.
Di akhir cerita, raja-raja yang ditawan dapat dibebaskan, dan dengan sukarela ke-97 raja bersama dengan tiga raja bergabung untuk mendukung terlaksananya Sesaji Raja Suya.
Reporter : Zainal