MOJOKERTO, mediabrantas.id – Guyuran Hujan deras dibawah awan gelap dan samberan Petir ternyata tak menyurutkan langkah ratusan warga Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto ini untuk melangkah menuju area makam leluhur, Eyang Temenggung Soekarto Widjoyono atau Mbah Sentono untuk mengikuti acaraa Khotmil Qur’an, Doa bersama dan rangkaian Ruwah Dusun Banjarsari, Minggu (01/02/2026).
Acara Majelis Khotmil Qur’an di Makam Mbah Sentono kali ini lebih semarak dari acara sebelumnya karena digabung dengan Acara Ruwah Dusun Banjarsari yang sudah menjadi tradisi warga setempat yang begitu semarak dengan kehadiran puluhan ancak dan tumpeng raksasa yang diisi dengan berbagai macam buah dan tanaman hasil pertanian warga Banjarsari dan alat alat kebutuhan rumah tangga yang bergelantungan.
Uniknya acara keagamaan yang diwarnai dengan tradisi budaya leluhur adat Jawa yang digelar di area Makam Umum Dusun itu sangat menarik perhatian massa karena ada kembang mayang yang ditempeli uang seribu hingga lima ribu rupiah sampai sepuluh ribu.
Acara diawali sambutan selamat datang oleh para peserta Kirab Ancak atau tumpeng raksasa dengan pembacaan Sholawat oleh group Sholawatan Djawa Dwipa Setelah doa bersama dan tausiyah selesai, seluruh isi ancak diperebutkan oleh warga yang hadir, begitu juga kembang mayang ludes tanpa sisa, hal itu menciptakan suasana penuh keakraban dan kegembiraan.

Selain itu, panitia juga menyiapkan nasi tumpeng yang kemudian dinikmati bersama oleh warga secara gotong royong. Momen makan bersama ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus wujud kebersamaan masyarakat Dusun Banjarsari.
Istimewanya Acara Khotmil Qur’an ini tersebut turut dihadiri Penjabat Kepala Desa Kedunglengkong serta Kepala Dusun Banjarsari.
Sementara itu pengagas kegiatan majelis rutin Khotmil Qur’an dan Do’a Bersama Hadi Purwanto, SH MH, menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran acara dan tingginya partisipasi warga.
“Kami salut, walaupun hujan, masyarakat tetap hadir dengan penuh semangat. Ini menunjukkan kekompakan dan kepedulian warga terhadap kegiatan keagamaan dan tradisi leluhur,” ucap Mas Hadi.
Mas Hadi juga menambahkan bahwa Khotmil Qur’an dan Ruwah Dusun merupakan sarana untuk memperkuat syiar Islam sekaligus mendoakan para leluhur agar dusun senantiasa diberikan keberkahan, kerukunan, serta dijauhkan dari segala musibah.
Penasihat kegiatan, Ustaz Mukid, turut mendoakan agar hujan yang turun membawa manfaat bagi seluruh warga. Ia berharap kegiatan Khotmil Qur’an dapat terus dilaksanakan secara rutin dengan partisipasi masyarakat yang konsisten.
Sementara itu, Kepala Dusun Banjarsari, Dwi Ahmad Fauzi, mengapresiasi kekompakan warganya. Menurutnya, semangat kebersamaan terlihat jelas saat warga tetap mengikuti arak-arakan dari masjid menuju makam meski dalam kondisi hujan.
Hal senada disampaikan Pj Kepala Desa Kedunglengkong, Rusmiati, dirinya menegaskan bahwa Ruwah Dusun merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus upaya melestarikan budaya Jawa agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Semoga tradisi ini terus terjaga dan membawa manfaat bagi semua,” ujarnya.
Penceramah Kyai Hasan Mathori, mengingatkan agar seluruh rangkaian kegiatan tetap dilaksanakan dengan tertib dan penuh adab. Ia juga menekankan makna keberkahan dalam kebersamaan yang terwujud melalui Khotmil Qur’an dan tumpeng yang dibagikan kepada warga dan tidak boleh berebutan dan tertib sehingga kita semua mendapatkan barokah dari Alloh SWT. (Kartono)






