Majelis Rutin Khotmil Qur’an di Makam Mbah Sentono Dusun Banjarsari Sudah Memasuki Bulan ke 27

Dipublikasikan pada 7 September 2026

MOJOKERTO, mediabrantas.id –
Ratusan warga Dusun Banjarsari dan tokoh masyarakat setempat Menghadiri Kegiatan Majlis Khotmil Qur’an ke-27 yang digelar area Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono di Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (6 /9 /2026),

Mejalis ilmu agama yang dibungkus dengan kegiatan Khotmil Qur’an ini tak terasa telah memasuki bulan ke 27 ini merupakan menjadi sarana silaturahmi dan memperkuat syiar Islam sekaligus mendoakan para orang tua, guru, leluhur, dan seluruh ahli kubur, kaum muslimin dan muslimat.

Sebelumnya, sejak habis subuh jamaah rutin Khotmil Qur’an ini melakukan pembacaan Al-Qur’an, hingga khatam yang selanjutnya dirangkai siang’nya bersholawat Nabi hingga tausiah keagamaan, doa bersama dan kenduri tumpeng.

Dalam kegiatan tersebut, selain Khotmil Qur’an ( Pembacaan Ayat Al-Qur’an,) juga diisi dengan pembacaan Sholawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW Ustaz, Tahlil dan Istighotsah ini juga diisi dengan 2 ceramah agama.

Sedangkan penceramah agama yang pertama diisi oleh Ustadz Mukid, yang ceramahnya mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap kualitas ibadah, khususnya kewajiban salat yang merupakan salah satu amalan utama dalam kehidupan seorang muslim.

Ustaz Mukid mengawali tausiyahnya dengan mengingatkan jamaah bahwa pada akhirnya manusia akan meninggalkan seluruh urusan dunia. Harta, pekerjaan, usaha, jabatan, maupun keluarga tidak akan dibawa ketika seseorang menghadap Allah SWT.

Menurutnya, salat yang selama ini kerap dianggap sebagai kewajiban rutin justru harus menjadi perhatian utama.

Baca Juga:  Banjir Awal Ramadhan di Sampang Jadi Perhatian KGBJ

Ustadz Mukid dalam kesempatan itu menyampaikan kisah seorang alim yang menangis ketika berada dalam kondisi sakaratul maut yang selalu ingat sholat nya yang ia tinggal kan jika dirinya meninggal dunia.

Ustadz Mukid juga mengisahkan kisah seorang ulama yang dikenal sebagai ahli ibadah menangis bukan karena akan meninggalkan harta, keluarga, maupun usaha yang dimilikinya. ” Ulama ahli sholat itu menangis karena menyadari bahwa dirinya akan meninggalkan salat tidak lama lagi.

Untuk itulah Ustaz Mukid mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kesibukan dunia sebagai alasan meninggalkan atau menunda kewajiban salat.

“Kalau urusan dunia, kita mampu bekerja dari pagi sampai sore, bahkan lembur hingga malam. Namun, ketika berkaitan dengan urusan akhirat, tapi kenapa terkadang kita beralasan lelah, mengantuk, atau sibuk. Padahal, salat merupakan kewajiban yang menjadi salah satu perkara pertama yang diperhitungkan,” pesan Ustaz Mukid dalam ceramahnya.

Ustadz Mukid juga mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah, yakni mengevaluasi diri atas amal dan ibadah yang telah dilakukan selama hidup.

Menurutnya, usia manusia terus berjalan dan tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang. Oleh karena itu, selama masih diberikan kesempatan hidup, waktu sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal kebaikan.

Ustaz Mukid juga mengingatkan jamaah agar tidak hanya mengejar keberhasilan duniawi. Menurutnya, kehidupan dunia memang penting, tetapi kehidupan akhirat merupakan tujuan akhir yang harus dipersiapkan.

Baca Juga:  Kado Akhir Tahun, Ketum SMSI Dapat Penghargaan FORMAS

Ustadz Mukid kemudian memberikan gambaran sederhana mengenai waktu yang digunakan seseorang untuk beribadah. Dalam sehari terdapat 24 jam, sedangkan kewajiban salat lima waktu hanya membutuhkan sebagian kecil dari waktu tersebut.

“Jika dihitung, waktu yang kita gunakan untuk salat dalam sehari sebenarnya tidak sebanding dengan 24 jam yang Allah berikan kepada kita. Karena itu, jangan sampai kita merasa berat menyediakan waktu untuk menghadap Allah,” pesan Ustadz Mukid.

Sementara pada ceramah kedua yakni Kyai Hasan Matori juga menyampaikan tauziahnya yang mana beliau menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dalam beribadah serta menjadikan kegiatan keagamaan sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Kyai Hasan Mathori saat memberikan Ceramah agama di Majelis Khotmil Qur'an di Makam Mbah Sentono Dusun Banjarsari
Kyai Hasan Mathori saat memberikan Ceramah agama di Majelis Khotmil Qur’an di Makam Mbah Sentono Dusun Banjarsari

Kyai Hasan Matori mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an, bersholawat, dan berkumpul dalam majelis ilmu hendaknya tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“Majelis seperti ini jangan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi tempat untuk memperbaiki hati, memperkuat iman, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama. Ilmu yang kita dengar harus diamalkan dalam kehidupan,” pesan Kyai Hasan Matori.

Dalam kesempatan tersebut Kyai Hasan Mathori juga mengajak jamaah untuk menjaga persatuan, menghormati orang tua, mempererat silaturahmi, serta menghindari sikap saling menyalahkan. Menurutnya, kehidupan bermasyarakat akan menjadi lebih baik apabila setiap orang mampu menjaga lisan, memperbanyak kesabaran, dan mengedepankan akhlak.

Baca Juga:  Ribuan Massa Tumplek Blek Menyaksikan Karnaval Spektakuler Kebudayaan JATIROWO 2026 Diiringi Sound Horeg Jatim

Kyai Hasan Matori turut mengingatkan bahwa kematian merupakan kepastian yang akan dihadapi setiap manusia. Karena itu, keberadaan makam hendaknya menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa mempersiapkan bekal amal dan tidak terlena oleh kehidupan dunia.

Sementara itu ditempat yang sama, Penanggung jawab kegiatan Hadi Purwanto, SH, MH, yang akrab disapa Gus Hadi ini menjelaskan bahwa acara Rutinan Khotmil Qur’an di komplek Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono tersebut dimulai sejak pagi, para jamaah memadati area makam untuk mengikuti rangkaian pembacaan atau Semaan Al-Qur’an, Sholawatan, Tahlil dan doa bersama ini diakhiri dengan kenduri tumpeng.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk pengingat agar manusia tidak melupakan asal-usul serta senantiasa mendoakan mereka yang telah mendahului.

Pria yang juga merupakan Advokat dan pejuang masyarakat ini juga mengungkapkan rasa syukurnya karena kegiatan Khotmil Qur’an mampu berjalan secara rutin hingga memasuki pelaksanaan ke-27 bulan .

Sehingga dirinya menilai keberlangsungan kegiatan selama dua tahun lebih ini merupakan buah dari kebersamaan dan komitmen seluruh jamaah yang terus menjaga semangat ibadah.

“Istiqomah bukan perkara mudah. Banyak kegiatan yang diawali dengan semangat besar, tetapi tidak semuanya mampu bertahan. Alhamdulillah, majelis ini masih terus berjalan berkat pertolongan Allah SWT dan kekompakan jamaah,” ujar Gus Hadi didampingi keluarganya. ( Kartono )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *