Dipublikasikan pada 19 September 2026
SAMPANG, mediabrantas.id – Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 di Dusun Kapasan, Desa Baturasang, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, menjadi sorotan setelah ditemukan sejumlah bagian bangunan irigasi mengalami keretakan.
Proyek yang dilaksanakan HIPPA Batu Air Bersama melalui program Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas itu disebut belum genap lima bulan, namun kondisi fisiknya sudah terlihat banyak tidak sesuai harapan.

Tak hanya soal retakan, di lapangan juga muncul dugaan penggunaan kembali material lama serta pengurangan pada pekerjaan galian. Dugaan tersebut membutuhkan pemeriksaan teknis untuk memastikan apakah pelaksanaan proyek telah sesuai gambar kerja, volume, metode, dan spesifikasi yang ditetapkan.
Kondisi itu sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai proses pengawasan selama pekerjaan berlangsung. Sebab, kualitas bangunan irigasi menjadi bagian penting dalam mendukung kebutuhan pertanian masyarakat.

Ketua LSM Pemuda Indonesia, A. Sainal, meminta pihak berwenang tidak mengabaikan kondisi tersebut. Menurutnya, penggunaan anggaran negara harus diikuti dengan pekerjaan yang memenuhi ketentuan teknis dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau benar material lama digunakan kembali, galian dikurangi, dan bangunan belum lima bulan sudah banyak retakan, ini harus diperiksa secara serius. Jangan sampai masyarakat yang dirugikan,” ujarnya.

Sainal menambahkan, pihaknya mempertimbangkan untuk melaporkan persoalan tersebut kepada instansi berwenang. Pemeriksaan, menurutnya perlu mencakup material yang digunakan, volume serta kedalaman galian, kualitas konstruksi, hingga sistem pengawasan proyek.
“Kami tidak ingin menuduh tanpa dasar. Karena itu, pemeriksaan teknis dan audit penting dilakukan. Kalau pekerjaan sesuai spesifikasi, silakan dibuktikan. Kalau ada penyimpangan, harus ada pertanggungjawaban,” tegasnya.

Sementara itu, pihak HIPPA Batu Air Bersama saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon mengatakan, bahwa pemberitaan mengenai pekerjaan tersebut sudah cukup banyak beredar di sejumlah media.
Sedangkan pihak pelaksana proyek belum memberikan penjelasan teknis secara rinci terkait dugaan penggunaan material lama, pengurangan galian maupun penyebab munculnya retakan pada bangunan.

Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada pihak terkait lainnya, seperti Arif, bagian Asta Sampang untuk memperoleh penjelasan mengenai kondisi pekerjaan tersebut. Namun sambungan telepon yang dihubungi berulang kali belum dapat tersambung. (Hadi)






