RSUD Jombang Dukung dan Berperan Dalam Menjaga Kesehatan Mental Santri di Era Digital

JOMBANG, mediabrantas.id – Tak hanya konsisten dalam pelayanan kesehatan masyarakat, RSUD Jombang melalui seorang psikolog CH. Widayanti S.psi., M.Si., M.psi., menggelar talkshow dalam rangka Anniversary  ke-16   Santri Husada Pesantren Tebuireng.

Kegiatan talkshow yang diselenggarakan pada Jumat(15/08/2025) dihadiri para santri dari tingkat SLTP hingga SLTA se-Tebuireng Raya bertujuan sebagai respon terhadap tantangan kehidupan modern yang kian kompleks.

Mengusung tema “Mental Wellness & Life Balance ala Santri Digital ” menjadi salah satu bukti nyata bahwa RSUD Jombang mendukung penuh dalam menjaga kesehatan mental dan menemukan keseimbangan hidup ala santri zaman now sehingga pesantren tidak hanya mencetak generasi berilmu dan berakhlak tetapi juga harus menjadi ruang yang mendukung kesehatan mental para santri.

Dalam penyampaian materinya Widayanti menjelaskan jika santri bisa stres dan itu bukan aib. Stigma bahwa santri selalu kuat justru membuat mereka memendam tekanan sendirian. Ini berdasarkan survey nasional INAMHS “Indonesia National Adolescent Mental Health Survey” pada tahun 2021-2022.

Baca Juga:  Bupati Blitar Turut Dampingi Kunjungan Wapres Gibran Rakabuming Raka

Selanjutnya hasil kolaborasi UGM,University of Queensland, Johns Hopkins, dan Kemenkes RI yang dirilis bertahap sebagai referensi resmi nasional pada tahun 2024 dan digunakan oleh Kemenkes, BKKBN, UNICEF, UGM, dan lain sebagainya mencatat bahwa 1 dari 3 usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental atau ODMK (Orang Dengan Masalah Kesehatan Mental) dalam 12 bulan terakhir(dalam gejala walau belum mencapai diagnonis resmi) sekitar 34,9% atau setara 15,5 juta remaja. Kemudian 1 dari 20 remaja yang telah terdiagnosis gangguan mental menurut DSM dalam 12 bulan terakhir sekitar 5,5% atau setara dengan 2,45 juta remaja.

“Santri pun tak luput dari resiko tersebut terutama karena mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan asrama, tekanan akademik dan gaya hidup digital yang tidak selalu ramah pada kesehatan jiwa,” kata Widayanti.

RSUD Jombang

“Ada kisah nyata dari 2 santri yakni Aisyah yang stres karena terus menerus scroll medsos sambil belajar, dan Ali yang selalu merasa kesepian tanpa tempat curhat. Itu menjadi contoh nyata tantangan keseharian yang dihadapi santri masa kini,” tuturnya.

Baca Juga:  Hari Raya Idul Adha 1446H, RSUD Jombang Sembelih 3 Ekor Sapi 3 Ekor Kambing

Talkshow ini menggabungkan pendekatan psikologi modern dan nilai-nilai islami. Dari teori “Abraham Maslow” kita belajar bahwa manusia perlu memenuhi 5 kebutuhan dasar mulai dari tidur yang cukup, rasa aman hingga aktualisasi dini. Sementara itu menurut teori “Self Determ Ination mengajarkan jika santri akan berkembang optimal apabila mereka diberi kebebasan bertanggung jawab merasa mampu dan mendapat dukungan sosial. Dan menurut teori “Richard Lazarus yang memperkenalkan konsep “reframing” yakni cara berfikir ulang terhadap masalah, sebagai contoh ujian tidak perlu dianggap sebagai ancaman, tetapi bisa dilihat sebagai peluang untuk belajar dan berkembang.

Dalam sesi interaktif para peserta diajak membuat jadwal seimbang antara belajar, ibadah, istirahat dan hiburan digital. Mereka juga diajarkan teknik sederhana namun efektif untuk mengelola stres. Selain itu kegiatan talkshow ini juga mendorong santri  untuk berani menjadi agen perubahan, bukan hanya menjaga kesehatan mental tapi juga mengajak teman sebaya untuk membangun komunitas yang sehat mental di lingkungan pesantren.

Baca Juga:  Plt Direktur RSUD Kab. Jombang : Proses Pertolongan Persalinan Sudah Sesuai Prosedur Operasional

Di penghujung acara Widayanti mengajak para santri dengan lembar aktivitas untuk merenungkan apa saja yang membuat mereka stres, lalu mengubahnya menjadi makna positif dan menuliskan komitmen kecil yang bisa dilakukan setiap hari dari membatasi paparan digital, tidur lebih awal dan mencari tempat curhat yang aman. =

“Dengan pendekatan secara edukatif, psikologis dan islami kegiatan ini mengajarkan bahwa menjadi santri bukan berarti bebas dari tekanan tapi justru punya kekuatan lebih untuk bangkit dan menyeimbangkan hidup,” jelasnya.

Sesi terakhir ini juga memberikan kesempatan para santri untuk berpendapat. “Ternyata stres itu normal yang penting tau cara menanganinya,” tutur Fikri dari kelas XI.

Senada denga Fikri, Siti santri kelas XI juga ikut menyuarakan pendapat. “Saya juga ingin ajak teman-teman untuk bikin kelompok curhat setiap malam jumat” pungkasnya. (Budi Tanoto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *