Tak Lekang oleh Waktu dan Kondisi, Keluarga Hadi Purwanto Tetap Istiqomah Gelar Khotmil Qur’an Hingga Fase Ke–20

MOJOKERTO, mediabrantas.id – Seakan tak lekang oleh waktu dan  Kondisi saat ini, rutinitas Khotmil Qur’an, Bersholawat dan do’a bersama yang diselenggarakan oleh Keluarga Hadi Purwanto, SH., MH, di Area Makam Mbah Sentono Banjarsari Desa Kedunglengkong Dlanggu yang dilakukan sebulan sekali diawal bulan sampai saat tetap berjalan terus secara Istiqomah, bahkan saat ini sudah memasuki fase 20 bulan berlalu memasuki tahun 2026.

Seperti yang dilakukan warga Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, bersama para rokoh masyarakat setempat  yang telah mengadakan acara, Sholawatan, Khotmil Qur’an dan Do’a Bersama serta Kenduri, Tumpeng yang diprakarsai oleh Keluarga besar Hadi Purwanto, yang diisi pula dengan ceramah agama oleh Kyai Mathori Hasan, Minggu siang (04 /01/2026) di Aula terbuka Makam Umum Dusun Banjarsari (Eyang Temenggung Soekarto Widjoyono / Mbah Sentono).

https://mediabrantas.id/wp-content/uploads/2025/12/Dinas-Pertanian-dan-Pangan-Kabupaten-Trenggalek.jpg

Sementara itu kepada para wartawan Penanggungjawab Kegiatan, Hadi Purwanto, yang akrab disapa Mas  Hadi ini  mengatakan, bahwasanya kegiatan rutin Khotmil Qur’an dan do’a bersama ini merupakan sarana warga Banjarsari yang ingin  berbakti kepada orang tua dan para leluhurnya.

Baca Juga:  Meriahkan Hari Lahir Desa Dengan Pawai Budaya

Mas Hadi juga mengatakan, tidak gampang di era digitalisasi saat ini  untuk mengajak masyarakat secara bersamaan ” Ngaji Bareng” menuntut ilmu untuk bekal akhirat atau berbuat kebaikan, apa lagi sampai Istiqomah dan sudah berjalan 20 bulan ini.

“Tidak gampang mengajak masyarakat dengan rutin ngaji bareng sama sama menuntut ilmu agama kepada para ulama atau Ustadz, apalagi kami mengadakan kegiatan ini tidak mendapatkan dukungan dari Pemerintah Desa Kedunglengkong saat ini,” ucap Hadi Purwanto yang akrab disapa Mas Hadi ini.

Dijelaskan oleh Mas Hadi, bahwa kegiatan rutin ngaji bareng dan kirim doa bersama ini diselenggarakan tidak ada muatan politik atau kepentingan apa–apa.

“Sudah sering saya katakan, bahwa Majelis ini saya bentuk tidak ada kepentingan apa-apa, ini murni sebuah ibadah kita kepada Allah SWT. Sebab di majelis ini kita bersama sama belajar ikhlas mencari Ridho Alloh SWT,” tegas Mas Hadi didampingi tokoh masyarakat H. Ismail Pribadi, serta keluarganya.

Dijelaskan oleh  pria yang juga menjabat sebagai Direktur LBH Djawa Dwipa dan LKH Barracuda ini  bahwa kegiatan rutin ini merupakan wadah  Belajar untuk  berbuat baik  kepada sesama dan giat ini bisa bermanfaat bagi orang lain.

Baca Juga:  Pengurus Idaroh Syu'biyyah Jatman dan DPC-FKDT Resmi Dilantik

“Kita disini sama sama belajar untuk mensyukuri nikmat Allah SWT, dan Alhamdulillah, Kegiatan ini sudah 20  bulan berlalu, semua ini laksanakan bersama keluarga dan Warga Dusun Banjarsari yang ingin ngaji bareng dan berdoa bersama, dilakukan semata -mata karena Lilahi Taala, demi Akhirat kelak, karena semua yang bernyawa pasti akan mati, dan kematian itu nantinya akan dimintai pertanggungjawaban kita dihadapan Alloh SWT, Karena  akhirat itu nyata,” lanjut Mas  Hadi.

Mas Hadi pun mengatakan, makanya kita selalu belajar Ikhlas hanya semata -mata karena Alloh SWT, dan tidak ada niat yang macam -macam atau kepentingan politik sedikitpun di dalamnya,” tegas Mas Hadi.

Sementara itu, rangkaian acara rutinan giat kirim doa kepada para leluhur ini diawali dengan kegiatan Khotmil Qur’an,  setelah itu dilaksanakan kirim doa kepada para leluhur dan para ahli kubur yang  namanya telah tercatat di  kertas yang telah ditulis oleh panitia.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan kegiatan Manaqib Syech Abdul Qadir Jailani, setelah itu digelar pembacaan Sholawat Al-Banjari oleh  Group Selawat “Al-Haddad Djawa Dwipa”

Baca Juga:  Keluarga Besar Hadi Purwanto dan Warga Banjarsari Ngalap Berkah di Makam Mbah Sentono

Sementara itu Kyai Hasan Mathori dalam tauziahnya mengajak para warga Banjarsari termasuk juga para wartawan yang ikut menghadiri pengajian rutin sebulan sekali itu, agar senantiasa meningkatkan ketaqwaan nya kepada Allah SWT dengan memperkokoh Iman dan tidak goyah dengan pimpinan yang dholim.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Hasan Mathori menceritakan kisah atau riwayat jaman Fir’aun yang pada saat itu dikisahkan tentang keteladanan Siti Masyitoh, sosok perempuan beriman di masa Fir’aun yang mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT meski harus menghadapi hukuman berat. Keteguhan iman Siti Masyitoh.

Kisah pilu demi mempertahankan ke menjadi teladan bagi umat Islam agar tetap istiqomah dalam keyakinan di tengah berbagai ujian.

Sebab saat ini banyak kaum muslimin yang imannya lemah mudah dimasuki dengan ajaran yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, Sehingga benteng ke Imanan kita kepada Allah SWT selalu tetap terjaga hingga ajal menjemput kita kelak nanti. (Kartono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *